kebodohan merajalela

April 30, 2008

Lokasi: Paris van Java alias PvJ – depan toko Adidas

Pemeran: Meity dan Nana, beserta anak nongkrong PvJ

Waktu: 29 April 2008 – 18.00 wib

Saat itu, dua orang sahabat sedang sibuk mencari sebuah kado yang akan dipersembahkan kepada sang sahabat yang kebetulan pada hari itu juga sedang merayakan hari ulangtahun ke-21.. Sang sahabat yang berulang tahun, bernama Amal, sedang mengikuti cursus di Goethe institut pada hari itu, Meity dan Nana pun berkeliling kota mencari kado.

Toko pertama adalah Adidas, karena Amal sempat mengutarakan keinginan secara implisit bahwa dia menginginkan sebuah jacket berwarna merah bergaris biru dengan label si tiga garis di dada. Lalu berjalanlah Meity dan Nana menuju Adidas, di depan toko.. ada segerombolan laki-laki dan perempuan sedang duduk-duduk nongkrong. Meity merasa mengenal salah satu-nya, dengan kepala yang berputar-putar karena demam dan hidung yang tidak bekerja sama, Meity pun berusaha mengenali sang lelaki yang tatapan matanya telah terkunci dengan pandangannya.

*BRAK!*

dan Meity pun menabrak sebuah pintu kaca saat sedang berniat membalas senyuman si laki-laki tidak dikenal tapi tampak akrab itu.

*Nana langsung masuk toko, pura-pura gak kenal sama Meity*

dan Meity pun menanggung malu.

Sial.

Awalnya saya berniat menuliskan satu jurnal dengan judul “2 Hari Bersama Kemal Supelli” tapi setelah dipikir-pikir, kok terkesan seperti sebuah artikel yang ditulis oleh pemenang kuis untuk menghabiskan waktu bersama selebritis pujaan, jadi.. demi menghindari kesan yang “tidak-tidak” (alias anggapan bahwa si Kemal adalah seleb idola saya) jadi saya ganti judulnya.. hehehehe..

Tanggal 9 sampai 11 April yang lalu, saya menemani Kemal balik ke Hamburg (Harburg sih tepatnya) untuk melakukan presentasi di hadapan sang dosen. Presentasinya sendiri cuma berdurasi 15 menit, sisa waktu yang ada digunakan untuk mengeksplorasi kota di mana teman saya menuntut ilmu. kekekekek. Jadi inti perjalanan saya kemarin itu pure untuk jalan-jalan sekaligus memastikan si Kemal kembali ke Belanda tepat waktu demi menonton quickie express di Rialto.

Hari selasa, pukul 23.15 (GMT +1) saya dan kemal berangkat dari Amsterdam Amstel dengan menggunakan layanan bis Eurolines. Tiba di Hamburg ZOB (bus station) kurang lebih pukul 6 pagi. Sambil menggigil kedinginan, kami mengambil S-Bahn menuju Harburg dan langsung “tepar” di kamar bung Kemal. Siang hari-nya, setelah membuntuti Kemal ke kampus-nya, saya disuguhi kebab lalu berjalan-jalan di Hamburg.

Mulai dari toko tas (buatan zurich, switzerland) FREITAG, yang isi-nya bikin ngiler..jadi ini tas GOKIL banget. Ga ada satupun motif yang sama, bahan-nya semua recycle. Mulai dari strap yang dibikin dari sabuk pengaman, terus karet dari ban mobil dan bahan utama tas-nya adalah terpal container yang bikin ini tas unik dan mahal gila. Harga tas paling murah Euro 93, itupun kecil banget.. sedangkan model terbaru bisa sampe Euro 250, yang berhasil bikin saya dan Kemal melotot sekalian “ngacai” — sangat menggiurkan.

Setelah Freitag, sempat muncul ide untuk naik balon udara yang diurungkan entah karena alasan apa.. kayaknya gara-gara kita berdua sama-sama lagi miskin. hehehehe. Terus pergi ke toko vintage, dimana isi-nya dipenuhi barang 2nd hand yang berasal entah dari tahun berapa. Saya sambil memutuskan sempat mencoba 2 dress tahun 70an berwarna biru, lagi-lagi masih memutuskan untuk tidak membuang uang saya begitu saja.. Hari ini diputuskan bahwa kami hanya akan window shopping dan menentukan barang mana yang patut dibeli keesokan hari nya. Setelah keluar masuk toko ini dan itu, minum kopi di Alex sambil memperhatikan orang-orang menikmati sinar matahari di dermaga (makan ati sambil liatin orang pacaran) lalu nongkrong di pinggir jalan. Makan nasi goreng seharga 4 euro dengan porsi tukang becak, kami pun memutuskan sudah waktunya untuk pulang, badan masih capek karena perjalanan sehari sebelumnya, perut sudah kenyang dan kaki sudah terlalu lelah untuk dipaksa berjalan.

Keesokan harinya, setelah bangun pagi dan disuguhi kopi oleh sodara Kemal, kami berdua packing dan menyimpan barang-barang di luggage locker Stasiun. Perjalanan kali ini dimulai dengan mengunjungi Stadtpark Hamburg, karena ternyata Bung Kemal sendiri belum pernah kesana. Lagipula, matahari sangat bersahabat, jacket winterpun dilepas ketika badan sudah mulai berkeringat. Di sini, Kemal bermain dengan flying fox di area bermain untuk anak-anak – dasar laki-laki..kalau udah ketemu yang kayak gini semangat ‘45 langsung keluar. Padahal pertamanya mah yah, dia teh sok-sok-an enggak mau maen (kayaknya malu kalau keliatan ada student S2 jurusan Engineering bermain di taman buat anak kecil hiihhi) tapi taunya udah sekali nyoba malah keterusan.. hahahaha. Ternyata ada planetarium di ujung taman-nya, jadi kesanalah kami berdua sambil poto-poto narsis. Banyak orang yang cuma duduk-duduk menikmati sinar matahari yang belakangan jarang keluar, atau anak-anak kecil yang belajar maen sepeda, yang paling sering sih orang yang lagi bawa anjing jalan-jalan.

Setelah melihat si danau dan puas mengelilingi stadtpark, saya dan kemal kembali ke pusat kota dan memulai perburuan barang-barang. Dimulai dengan mengunjungi H&M dan Mango (dilengkapi kebodohan saya yang hampir jatoh dari tangga), lalu mengisi perut di Burger King (dan melihat seseorang yang memamerkan pantat dengan sukses-nya), lalu mampir ke Europe Passage untuk beli es-krim. Saya sendiri berhasil menggondol beberapa barang dari American Apparel (sebuah dress hitam yang cara pake nya bisa ganti-ganti dan sebuah hoodies). Kemal pun akhirnya mengajak saya kembali ke Freitag karena ada satu model tas yang bikin dia gak bisa tidur, dan merasa harus mengamankan si tas (model itu keluar di tahun 1997 dan tidak di produksi lagi). Sisa perjalanan, kami hanya menikmati pemandangan kota Hamburg, makan malam dan ngopi lagi di Alex sambil mendengarkan seorang saxophonist jalanan yang memberikan sentuhan romantis pada sebuah sisi kota Hamburg.

Candaan-candaan biadab khas kami berdua pun sudah tak terhitung, perjalanan singkat yang benar-benar memberikan kesan tak terlupakan untuk saya. Setelah beratus-ratus rencana untuk mengunjungi Hamburg yang selalu saja saya batalkan, akhirnya terlaksana. Saya pun mendapatkan sebuah “get-away” trip yang sangat menyenangkan. Ditutup dengan berbagai cerita dari kota Hamburg, kami menutup perjalanan ini dengan mengendarai Eurolines menuju Amsterdam Amstel pada pukul 22.30. Kembali menuju satu kota yang juga menarik dan telah menjadi second home untuk kami berdua. Kembali menuju sang kekasih (bagi Kemal tentunya) dan seorang sahabat (bagi saya). Dibukakannya pintu apartement yang berlokasi di Rode Kruislaan – Diemen oleh Chakee, telah menutup perjalanan kami berdua, meninggalkan berbagai cerita-cerita bodoh yang tentu saja akan saya ingat sampai tua. hihihi.

Terima kasih ya Kemaaal..untuk 2 hari bersama anda yang sangat menyenangkan!

ayyo Maaal..next destination : Munchen dan Prague!!!!

ps. Foto-foto bisa dilihat di sini dan di sini.

*melirik kemal yang sedang tidur*

*melirik chakee yang sedang tidur*

*melirik kelzo yang sedang tidur*

*melirik layar laptop yang barusan memberikan kejutan*

iyya, barusan aja ada kejutan datang dari Indonesia.. tampaknya dalam waktu dekat saya akan pulang, insya allah kalau memang memungkinkan.. paling cepat mungkin minggu depan saya sudah berangkat. Tapi kemungkinan terburuk ya saya enggak jadi ke Indonesia. hehehe.. tapi ini langsung mencari-cari tiket pulang yang murah, jadi kalau ada yang bisa bantu.. akan sangat dihargai usaha-usaha nya. :)

fiuh..

and so it is..

life is just full of surprises..

quote: Man

April 4, 2008

“Man is a credulous animal, and must believe something; in the absence of good grounds for belief, he will be satisfied with bad ones.” – Bertrand Russel.

Pernah menolak pacar melalui surat? Saya sendiri belum pernah – tapi ternyata hari ini somehow saya diberi kesempatan yang kurang lebih sama. Saya diharuskan untuk ‘menolak’ perusahaan besar sekaliber Corus sebagai tempat internship. Rasanya menyayat hati. Sangat disayangkan. Dan seharusnya kita bisa menjadi pasangan yang hebat. Tapi apa mau dikata. Nasib berkata lain.

Cuplikan surat sengaja saya taruh disini. Siapa tahu bisa menginspirasi orang lain untuk menolak sebuah perusahaan. Atau sekedar menolak pacar lewat surat.
Dear Mrs. E,

It is with both regret and dissapointment that I am not be able to get a supervisor for my internship at Corus. The decision has been made, and all of my 4 Professors rejected my proposal to conduct a master thesis at Corus. Many reasons have been raised, but mostly they are incapable due to lack of knowledge in sheet metal processing technology.

It has been my passion to be able to work in Corus, but what can I say – it is impossible to do without any supervisor from the university. I can, however, delay my master thesis to do the internship, but it doesn’t seem to be feasible regarding the implication of fund I personally should bare.

If everything goes on smooth, I will be graduated on October 2008. Regardless this matter, I hope the opportunity for me will still be wide-open.

I will personally send an e-mail to Mr. JL of Hot Rolling Department to notify him about this difficulties.

Thank you so much for giving me the opportunity, and all the effort to ease me with all the admission processes.

Kind Regards,
Kemal Supelli

Berat rasanya harus menekan tombol Send pada toolbar di layar e-mail saya. Tapi tetap harus dilakukan. Rupanya keadaan memaksa kita untuk tidak bersama.

Yah, apa boleh buat. Seperti orang bilang, masih banyak ikan di laut. Semoga saya bisa mendapatkan ikan yang lebih tepat untuk saya. Atau mungkin juga saya akan mendapatkan ikan yang sama, cuman di lain waktu dan kesempatan saja. Seperti saya bilang kan, I hope the opportunity for me will still be wide-open.

Aksi – Reaksi

April 2, 2008

Lagi-lagi saya tergugah untuk menulis satu hal yang biasanya saya hindari, untuk saya hal-hal seperti ini sebenarnya lebih kepada prinsip dan kesadaran masing-masing saja.

Setelah ribut dengan aksi salah satu tokoh politik Belanda yang beberapa hari lalu meluncurkan satu buah slide show (Oh, maksud saya film..) dengan judul ‘Fitna’ kali ini rakyat Indonesia kembali sibuk dengan baru diluncurkannya Undang-Undang anti-pornografi.

Dua kejadian yang menimbulkan banyak tanggapan dari berbagai pihak, dari blogger sampai para pejabat. Bisa dibilang kedua hal yang saya sebutkan (peluncuran ‘Fitna’ dan di-sah-kannya UU anti pornografi) adalah aksi. Yang menurut hukum alam, jelas akan menimbulkan reaksi. Betul bung Kemal? dan kalau diijinkan, saya ingin memberikan opini saya atas reaksi yang timbul atas kejadian-kejadian tersebut.

Betul Mey.. Memang setiap aksi pasti ada reaksi. Ini sudah hukum alam. Dijelaskan konkrit oleh Sir Isaac Newton pada tahun 1687. Lebih tepatnya dikenal dengan Hukum Newton I – atau kerennya Law of Inertia. Katanya, benda yang dikenakan suatu gaya akan melawan gaya itu dengan besar yang persis sama. Dengan kata lain, seperti yang Anda tadi sebutkan, setiap ada aksi pasti ada reaksi. Tapi Bang Newton juga bilang, besarnya reaksi sangat tergantung dengan besarnya aksi. Katanya, besarnya reaksi selalu sama dengan besarnya aksi. Itu sebabnya mengapa untuk menahan benda sebesar 10 Newton, Anda harus memiliki kekuatan juga sebesar 10 Newton. Karena begitulah, alam ‘memaksa’ seluruh benda senantiasa berada dalam kesetimbangan.

Nah, reaksi yang diberikan oleh masyarakat terkait sebenarnya cukup mengecewakan. Hal yang menurut saya kurang diperhatikan oleh para pemberi reaksi adalah kesadaran diri masing-masing dan rasa tanggung jawab.

Film fitna, hasil karya oom Geert itu, menuding Islam sebagai agama yang tidak memiliki pri-kemanusiaan (tidak mengindahkan hak azasi manusia) dan dibandingkan dengan Meinkampf-nya kakek Hitler. Begitu banyak potret-potret yang memang kalau diteliti lagi kurang manusiawi dan tidak masuk akal, beberapa dialog yang ditampilkan pun hanyalah dialog yang berisikan imam-imam menyerukan umatnya untuk membunuh siapa saja yang bukan islam.

Bagaimanakah umat islam bereaksi?

Mayoritas umat islam menanggapinya dengan penuh emosi, kepala panas, dan pastinya dongkol sedemikian rupa – menjadikan kepala dan hati mereka masing-masing dipenuhi dendam (yang mana tentu saja pernah diserukan oleh Allah SWT bahwa dendam adalah salah satu perbuatan yang terkutuk). Siapa sih yang enggak marah kalau agama atau apapun itu yang ia percaya sebagai sesuatu yang baik, dituding sebagai sesuatu yang buruk? Saya pun sebagai seorang penganut agama islam merasa tersinggung, atas segala tudingan yang diberikan – dan sedikit kecewa, prihatin, sedih begitu menyadari apa yang ditudingkan oleh mereka mungkin saja benar. Kenapa saya bilang begitu?

Karena apa sebenarnya yang kalian ingin sampaikan kepada pemerintahan belanda dengan melempar telur ke Kedutaan Belanda? apa yang ingin disampaikan pada Geert Wilders dengan membawa satu karton besar bertuliskan “KILL WILDERS”? apa yang ingin disampaikan pada sebuah dialog terbuka, dimana kalian menjawab penuh emosi atas semua tudingan – berteriak lantang, mengacungkan tangan, apakah itu yang kalian namakan pembantahan atas ‘Islam adalah agama dengan penuh kekerasan dan tidak ada sama sekali kedamaian di dalamnya?’ ????

WAKE UP EVERYBODY.. that would not be the smart thing to do in order to beat this guy if you want to prove that he’s wrong!!

Iyya Mey, masalahnya ternyata Hukum Newton tidak bisa diterapkan begitu saja kepada manusia. Seperti yang Anda sudah bilang tadi – terbukti, reaksi tidak selalu sebesar aksi. Justru terkadang terlampau besar – atau malah dibesar-besarkan. Persis seperti kasus Oom Geert yang sudah Anda paparkan. Seharusnya aksi seperti ini dihadapi dengan kepala dingin, tidak usah dengan teriak-teriak. Apalagi dengan telur busuk.

Ya Mal..sebenernya pembahasan kita jadi kurang fokus sekarang, saya pada awalnya hanya ingin mengatakan bahwa sebenarnya reaksi yang diberikan oleh umat Islam yang merasa tersinggung terlalu berlebihan dan menggunakan pendekatan yang salah. (jangan salah sangka, saya pun memiliki reaksi tersendiri atas ditudingnya Islam sebagai agama yang kejam dan mengabaikan nilai-nilai hak azasi manusia). Menurut saya, dalam penerapan hukum aksi dan reaksi ini perlu ditambahkan satu langkah, yaitu evaluasi diri. Umat Islam yang tersebar di dunia ini seharusnya lebih melihat ke dalam diri masing-masing, mengevaluasi apakah yang dikatakan oleh Wilder itu benar? Kalau salah, coba dicari alasannya… kenapa si Oom Geert itu bisa berkata seperti itu? Setelah ketemu alasannya barulah dipikirkan bagaimana caranya untuk membuktikan si Oom Geert salah (yang jelas tindakan anarki tidak termasuk ke dalam salah satu solusi, walaupun seperti telah saya bahas beberapa hari yang lalu di sini, banyak orang percaya Oom Geert akan menjadi korban assasination berikutnya setelah van Gogh).

Untuk kasus si “Fitna” ini, saya rasa reaksi yang sejauh ini masuk akal hanyalah dialog terbuka yang dilakukan tadi siang oleh si Geert dan orang yang menentangnya. Dan alangkah jauh lebih baiknya jika kita membuktikan dengan perilaku (yang didasari kesadaran diri masing-masing) di dunia nyata. Tidak usah kita berdebat, berapa banyak muslim yang dianiaya oleh “penganut agama lain”, itu hanya akan memperburuk keadaan, tidak perlu juga kita berteriak-teriak dengan penuh kemarahan. You guys have to realize that it ain’t make anything goes any better than it is now. Ketika amarah kita terpancing, maka Oom Geert menang. And I don’t want to be in a position who admit that he won this war. If you want to win this war, be smart (which i don’t really exactly know how to do that).

Tidak mudah memang untuk tidak terpancing emosi. Tapi ikutilah hukum alam. Ikuti hukum aksi-reaksi. Balas aksi dengan reaksi yang wajar. Tidak berlebihan. Tidak berat sebelah. Prinsipnya tetap sama, aksi = reaksi. Hanya dengan begitu, kesetimbangan akan tercapai. Bukan sekedar aksi balas membalas yang tidak ada hentinya. Toh?

Betul Mal.. jadi sambil membuktikan si Oom Geert itu salah kita stay cool, calm and confidence aja nih?

Tepat!

Iyya..menurut saya juga begitu. Tidak perlu lah konfrontasi secara anarkis terhadap pihak yang tidak bersalah (Geert Wilders memang orang Belanda dan berada di parlemen, tapi film “Fitna” ini tidak berhubungan dengan kerajaan Belanda – dan hanya merupakan act from the Freedom of Speech ; juga perlu diingat mayoritas WN Belanda tidak sependapat dengan si Oom Geert). Untuk bisa mengubah keadaan, harus dimulai dari diri sendiri.

“Do you want to know how to change the world? One act of random kindness at a time” (quote taken from: Evan Almighty)

Bagi umat Islam yang ada dan sedang dilanda dengan cobaan berupa fitnah ini, sudah saatnya kita menunjukkan kebaikan yang ada dalam agama Islam. Salah satu dari sekian banyak contoh yang bisa saya berikan, mungkin ayat Al-Qur’an di bawah ini bisa mewakilinya.

Sudah saatnya kita membuktikan bahwa Islam bukanlah agama penuh kebodohan, dan satu-satunya cara untuk membuktikan hal tersebut adalah dengan menjadi (berpikir – bertingkah laku) SMART. pintar.

karena itulah reaksi yang akan membuat keadaan menjadi seimbang, (kalau boleh pinjam istilahnya si Kemal sih..) memenuhi law of inertia.

Well, sekian dulu dari kami.. berhubung bung Kemal sudah jatuh tertidur di Amsterdam sana.. pembahasan mengenai pemberlakuan UU anti pornografi akan kita bahas di postingan berikutnya ;)

groetjes,

meity & kemal