Kharisma Abdillah Putra
Maret 16, 2009
Since last month, I’ve been living in Amsterdam, well – not in Amsterdam actually but Diemen. Sounds familiar? Yes, Diemen is where Chakee and Kemal live. Weird though, even now we’re closer than ever – we rarely see each other again. Chakee is working (for internship) at Leo Burnett and Kemal is still hanging at Corus.
I spend my day mostly in the living room. The couch is my bed. I have everything I need on the table, my laptop, my mobile, a glass of tea, marlboro menthol, you name it. Usually I am alone until 6 or 7 in the evening, Reza will come from work and asked if I cook something for dinner (he’s my fans in this house). After Reza came home, we’re going to have a talk about this and that until 3 in the morning.
Sometimes, we have another friend who lingers here in the living room. A couple days ago, he stayed and spent some nights because the electricity in the house went off. He is sometimes just sit there (on the other couch) and watch TV to give me a company. His name is Kharis. He has this unique daily life, not too different from me (who sometimes sleep once in two days) – in the day he will be sleeping if he’s not at school, and in the night he is awake. See? He has a girlfriend in Indonesia (which I expected as the reason of that daily schedule). He’s funny – nice – and ask lot of questions.. and this is him (enjoying dinner)..

a (compact) Trip to Hamburg
April 12, 2008
Awalnya saya berniat menuliskan satu jurnal dengan judul “2 Hari Bersama Kemal Supelli” tapi setelah dipikir-pikir, kok terkesan seperti sebuah artikel yang ditulis oleh pemenang kuis untuk menghabiskan waktu bersama selebritis pujaan, jadi.. demi menghindari kesan yang “tidak-tidak” (alias anggapan bahwa si Kemal adalah seleb idola saya) jadi saya ganti judulnya.. hehehehe..
Tanggal 9 sampai 11 April yang lalu, saya menemani Kemal balik ke Hamburg (Harburg sih tepatnya) untuk melakukan presentasi di hadapan sang dosen. Presentasinya sendiri cuma berdurasi 15 menit, sisa waktu yang ada digunakan untuk mengeksplorasi kota di mana teman saya menuntut ilmu. kekekekek. Jadi inti perjalanan saya kemarin itu pure untuk jalan-jalan sekaligus memastikan si Kemal kembali ke Belanda tepat waktu demi menonton quickie express di Rialto.
Hari selasa, pukul 23.15 (GMT +1) saya dan kemal berangkat dari Amsterdam Amstel dengan menggunakan layanan bis Eurolines. Tiba di Hamburg ZOB (bus station) kurang lebih pukul 6 pagi. Sambil menggigil kedinginan, kami mengambil S-Bahn menuju Harburg dan langsung “tepar” di kamar bung Kemal. Siang hari-nya, setelah membuntuti Kemal ke kampus-nya, saya disuguhi kebab lalu berjalan-jalan di Hamburg.
Mulai dari toko tas (buatan zurich, switzerland) FREITAG, yang isi-nya bikin ngiler..jadi ini tas GOKIL banget. Ga ada satupun motif yang sama, bahan-nya semua recycle. Mulai dari strap yang dibikin dari sabuk pengaman, terus karet dari ban mobil dan bahan utama tas-nya adalah terpal container yang bikin ini tas unik dan mahal gila. Harga tas paling murah Euro 93, itupun kecil banget.. sedangkan model terbaru bisa sampe Euro 250, yang berhasil bikin saya dan Kemal melotot sekalian “ngacai” — sangat menggiurkan.
Setelah Freitag, sempat muncul ide untuk naik balon udara yang diurungkan entah karena alasan apa.. kayaknya gara-gara kita berdua sama-sama lagi miskin. hehehehe. Terus pergi ke toko vintage, dimana isi-nya dipenuhi barang 2nd hand yang berasal entah dari tahun berapa. Saya
sambil memutuskan sempat mencoba 2 dress tahun 70an berwarna biru, lagi-lagi masih memutuskan untuk tidak membuang uang saya begitu saja.. Hari ini diputuskan bahwa kami hanya akan window shopping dan menentukan barang mana yang patut dibeli keesokan hari nya. Setelah keluar masuk toko ini dan itu, minum kopi di Alex sambil memperhatikan orang-orang menikmati sinar
matahari di dermaga (makan ati sambil liatin orang pacaran) lalu nongkrong di pinggir jalan. Makan nasi goreng seharga 4 euro dengan porsi tukang becak, kami pun memutuskan sudah waktunya untuk pulang, badan masih capek karena perjalanan sehari sebelumnya, perut sudah kenyang dan kaki sudah terlalu lelah untuk dipaksa berjalan.
Keesokan harinya, setelah bangun pagi dan disuguhi kopi oleh sodara Kemal, kami berdua packing dan menyimpan barang-barang di luggage locker Stasiun. Perjalanan kali ini dimulai dengan mengunjungi
Stadtpark Hamburg, karena ternyata Bung Kemal sendiri belum pernah kesana. Lagipula, matahari sangat bersahabat, jacket winterpun dilepas ketika badan sudah mulai berkeringat. Di sini, Kemal bermain dengan flying fox di area bermain untuk anak-anak – dasar
laki-laki..kalau udah ketemu yang kayak gini semangat ‘45 langsung keluar. Padahal pertamanya mah yah, dia teh sok-sok-an enggak mau maen (kayaknya malu kalau keliatan ada student S2 jurusan Engineering bermain di taman buat anak kecil hiihhi) tapi taunya udah sekali nyoba malah keterusan.. hahahaha. Ternyata ada planetarium di ujung taman-nya, jadi kesanalah kami berdua sambil poto-poto narsis. Banyak orang yang cuma duduk-duduk menikmati sinar matahari yang belakangan jarang keluar, atau anak-anak kecil yang belajar maen sepeda, yang paling sering sih orang yang lagi bawa anjing jalan-jalan.
Setelah melihat si danau dan puas mengelilingi stadtpark, saya dan kemal kembali ke pusat kota dan memulai perburuan barang-barang. Dimulai dengan mengunjungi H&M dan Mango (dilengkapi kebodohan saya yang hampir jatoh dari tangga), lalu mengisi perut di Burger King (dan melihat seseorang yang memamerkan pantat dengan sukses-nya), lalu mampir ke Europe Passage untuk beli es-krim. Saya sendiri berhasil menggondol beberapa barang
dari American Apparel (sebuah dress hitam yang cara pake nya bisa ganti-ganti dan sebuah hoodies). Kemal pun akhirnya mengajak saya kembali ke Freitag karena ada satu model tas yang bikin dia gak bisa tidur, dan merasa harus mengamankan si tas (model itu keluar di tahun 1997 dan tidak di produksi lagi). Sisa perjalanan, kami hanya menikmati pemandangan kota Hamburg, makan malam dan ngopi lagi di Alex sambil mendengarkan seorang saxophonist jalanan yang memberikan sentuhan romantis pada sebuah sisi kota Hamburg.
Candaan-candaan biadab khas kami berdua pun sudah tak terhitung, perjalanan singkat yang benar-benar memberikan kesan tak terlupakan untuk saya. Setelah beratus-ratus rencana untuk mengunjungi Hamburg yang selalu saja saya batalkan, akhirnya terlaksana. Saya pun mendapatkan sebuah “get-away” trip yang
sangat menyenangkan. Ditutup dengan berbagai cerita dari kota Hamburg, kami menutup perjalanan ini dengan mengendarai Eurolines menuju Amsterdam Amstel pada pukul 22.30. Kembali menuju satu kota yang juga menarik dan telah menjadi second home untuk kami berdua. Kembali menuju sang kekasih (bagi Kemal tentunya) dan seorang sahabat (bagi saya). Dibukakannya pintu apartement yang berlokasi di Rode Kruislaan – Diemen oleh Chakee, telah menutup perjalanan kami berdua, meninggalkan berbagai cerita-cerita bodoh yang tentu saja akan saya ingat sampai tua. hihihi.
Terima kasih ya Kemaaal..untuk 2 hari bersama anda yang sangat menyenangkan!
ayyo Maaal..next destination : Munchen dan Prague!!!!
ps. Foto-foto bisa dilihat di sini dan di sini.


