sebuah pandangan atas keyakinan

Maret 28, 2008

Saya percaya saya adalah seorang Muslim, telah mengucapkan syahadat – berusaha untuk memenuhi shalat 5 waktu (walaupun ternyata masih kalah dengan waktu) – berpuasa di bulan Ramadhan – berniat pergi hajj kala mampu – dan tentu saja saya percaya bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT.

apakah itu membuat saya menjadi seorang terrorist?

apakah lalu itu membuat kalian yang tidak sama keyakinan-nya dengan saya diijinkan untuk memicingkan mata kala bertatap muka?

Saya percaya, atas keberadaan agama-agama selain islam. Saya tidak menghakimi keyakinan kalian, tidak juga ketakwaan kalian. Mengapa? Karena saya, walaupun yakin atas ke-esa-an Tuhan saya, percaya bahwa sebenarnya kita semua menyembah Tuhan yang sama hanya saja dengan cara yang berbeda-beda. Sangat mungkin timbul beberapa tentangan atas pernyataan saya, tapi kalau ternyata ada begitu banyak Tuhan di dunia ini, bukankah itu akan menimbulkan keadaan yang sangat aneh? Bagaimana bisa ada beberapa Tuhan mengatur satu semesta. Apa yang terjadi kalau mereka memiliki perbedaan pendapat? kiamat kah?

Maka daripada itu, saya lebih memilih untuk percaya bahwa semua manusia sebenarnya memiliki satu tujuan yang sama, hanya ada satu Tuhan di dunia ini tetapi disembah(nya) dengan cara yang berbeda-beda.

Manusia diberikan kebebasan untuk memeluk kepercayaan yang dianggapnya paling benar. Lalu kenapa saya memeluk agama Islam? Karena meskipun saya memang (atas bantuan alam semesta) dilahirkan di keluarga muslim, bukan berarti saya harus menjadi seorang muslimah. Saya bisa saja murtad, berpaling untuk memeluk kepercayaan lain yang saya anggap paling tepat bagi diri saya.

Tetapi saya tidak menjadi murtad karena saya merasa, Islam adalah bagian penting dalam hidup saya. Saya beruntung telah mengenyam pendidikan agama sejak saya masih belajar merangkak, terlebih beruntung karena saya selalu diberikan kebebasan untuk memilih jalan hidup saya. Dan saya ingat betul atas satu pernyataan, “Kebebasan adalah hadiah terbaik yang bisa dimiliki oleh manusia” yang tentu saja disertai dengan tanggung jawab.

Hari ini, dua orang teman saya dari kampus mampir ke rumah. Lalu kami berbincang-bincang tentang paham kanan dan kiri, tiba-tiba saja topik pembicaraan jatuh pada sosok seorang anggota parlemen belanda yang kemarin meluncurkan satu film tentang agama yang saya peluk. Judul film-nya adalah “fitna(h),” entah kenapa si bapak membuat film dengan judul seperti itu. Kami sempat membuat lelucon, mungkin karena ini adalah usaha dia untuk membuat satu fitnah?

Sejujurnya saya tidak biasa menulis mengenai hal-hal yang gampang menimbulkan kontroversi karena menyangkut prinsip hidup orang lain. Saya juga tidak membuat tulisan ini untuk mengadu domba atau melakukan usaha merusak ketentraman hidup orang lain. Tapi setelah tadi melihat film dari si anggota parlemen belanda tersebut, ada suara yang sedikit terusik dalam hati saya. Suara itu berkata dengan volume sangat rendah, mungkin karena tidak ingin mengganggu saya. Walaupun pada akhirnya saya menulis juga tentang film tersebut.

Film ini sejak pembuatannya telah membuat banyak kontroversi, banyak yang bilang si penggagas film ini berpotensi dibunuh seperti sutradara belanda (Alm.)Dhr. van Gogh, tapi apa saya dan teman-teman saya bilang?

Film ini berpotensi menyulut api perang agama di seluruh dunia. Fakta yang ditampilkan tidak memberikan tampilan lengkap alias hanya berupa potongan-potongan dari berbagai hal yang mungkin sengaja dilakukan, dimana ketika hal itu dilakukan hanya akan membuat satu persepsi yang salah. Siap-siap lah, karena mungkin saja – dalam beberapa waktu dekat, kita akan dihadapkan pada satu keadaan yang mungkin mirip Holocaust, pembantaian terjadi dimana-mana, pembunuhan tanpa pandang bulu, meluas ke semua area dimana perbedaan keyakinan dianggap sebagai sesuatu yang salah. Keadaan di mana semua orang merasa dirinya-lah yang benar dan yang lain adalah salah. Keadaan di mana manusia, telah terenggut kebebasannya,

Peluncuran film ini bukanlah sesuatu yang bijaksana, telah keluar beberapa larangan bagi si penggagas film untuk memasuki negara arab, website-website yang menayangkan film tersebut pun beberapa telah di banned hanya untuk meredam kemungkinan terjadinya perang.

Saya pun jadi bertanya pada diri sendiri,

mereka yang mengaku dirinya terrorist, membunuh atas nama Tuhan. Al-Qur’an di tangan kanan dan Pedang di tangan kiri, pantaskah mereka dipanggil seorang muslim dan muslimah?

atau justru,

saya yang duduk diam di ruang tamu rumah saya, menonton film dan tv yang disiarkan oleh orang-orang “barat” sambil menikmati kopi saya dan menyulut sebuah rokok, apakah itu tidak menggoyahkan keadaan saya sebagai seorang muslim? pantaskah saya mengakui bahwa kepercayaan yang saya ambil adalah Islam?

Lalu apa yang harus saya lakukan? Apakah dengan melakukan semua yang telah dilarang itu maka saya bukanlah seorang muslimah lagi?

Bukankah yang terpenting adalah apa yang kita percaya? Saya percaya Allah SWT adalah benar, dan Ia telah menggariskan hidup saya. Saya pun percaya bahwa walaupun saya tidak dalam keadaan bersujud pada-Nya, do’a yang terucap akan selalu didengar. Saya percaya bahwa Dia Maha Mengetahui, dan Dia tentu saja tau bahwa saya memiliki keyakinan terhadap-Nya.

Bukankah begitu?

Ataukah, ada cara lain sebagai manusia untuk membuat dirinya layak dipanggil seorang Muslim/Muslimah?

Pembenaran akan selalu dicari seorang individu yang telah melakukan satu kesalahan, tetapi adilkah apabila Tuhan dijadikan alasan atas segala tindak (yang sama sekali tidak manusiawi) yang telah dilakukan? teman saya Ardho, juga pernah menulis mengenai hal ini, dan benar pendapatnya. Tuhan tidak selemah itu, Dia tidak perlu manusia untuk membela-Nya. Dia maha pencipta, maha segala-galanya.

Juga tidak adil apabila Islam disalahkan, atas semua pembunuhan yang terjadi. Atas semua tindakan terrorisme yang hadir menemani kita selama beberapa tahun kebelakang. Mengapa kita teriak sambil menunjukkan jari kita kepada mereka sambil berkata “mereka orang islam,” atau “mereka itu kristen,”

Apakah dengan dia fasih berbahasa arab, lalu dia menjadi orang Islam?

Apakah dengan saya berdoa dan menutupnya dengan melambangkan salib pada kening, bahu, dan dada saya lalu saya otomatis jadi penganut ajaran Kristus (trinitas)?

Apakah dengan saya menggunakan sebuah kalung berlambang bintang segi enam, saya menjadi seorang yahudi?

Bukankah agama adalah apa yang kita yakini, yang kita anggap sebagai nyawa kita, kita simpan di dalam hati lalu diamalkan sesuai dengan ajaran yang ada? Ataukah sekedar pencantuman nama keyakinan kita di sebuah kartu identitas belaka?

Lalu apa yang terjadi ketika Islam-lah yang menjadi korban? Apa yang terjadi ketika para tentara Amerika menembak begitu banyak manusia-manusia tidak berdosa di tanah-tanah yang mengandung minyak? Bah, hanya dengan alasan mereka adalah anggota Al-Qaeda. Omong kosong.

Film dari G.W. (saya singkat aja ya, nanti dia ge-er kalau namanya masuk blog ini) hanya menampilkan persepsi dari seseorang yang telah dikenal sebagai anti-Islam. Fakta yang diberikan pun sebenarnya tidak berdasar, hanya cuplikan-cuplikan yang seperti telah saya sebutkan, akan memancing adanya kesalahan para penonton dalam membentuk persepsi nya terhadap Islam. Bahkan beberapa fakta yang disebutkan di dalam film tersebut, saya anggap tidak relevan. Contohnya? Perkembangan jumlah penganut Islam di Belanda (mulai dari 54 orang sampai dengan 54.000.000 orang), pemberitaan tidak di banned-nya burqa di Belanda (Lalu kenapa? It’s not like they are hiding weapon behind it). dan beberapa fakta lain, seperti tentang keberadaan masjid di Belanda.

Pembicaraan mengenai topik ini telah menjadi sebuah roda di dalam roda, alias gak akan ada habisnya.

Bukankah lebih penting mencari sebuah solusi, bagaimana caranya setiap individu yang ada(baik yang memiliki keyakinan mengenai Tuhan ataupun tidak) dapat hidup bersampingan dengan perasaan saling menghargai satu sama lain?

dunia ini semakin lama semakin gila, ketika kita dihadapkan pada satu krisis dunia di mana nyawa bumi terancam akibat kesalahan yang kita lakukan.. beberapa orang masih sibuk berebut menjadi raja di dunia. beberapa orang lainnya berusaha merebut minyak di sana sini dan melakukan apapun yang dibutuhkan selama mereka bisa mendapatkan apa yang mereka mau..sisanya? membuat film semacam fitnah ini, yang entah maksudnya apa..tapi berpotensi membuat kita kembali ke jaman purba, perang dimana-mana. dimana orang saling membunuh. menghina. hanya karena kita berbeda..

sudah siapkah kita menghadapi perang dunia ke-3?

istighfar..

5 Tanggapan to “sebuah pandangan atas keyakinan”

  1. John Says:

    Wah…. luar biasa bung, analisamu sangat hebat.

  2. aRdho Says:

    huanjrit. keren!

  3. Jippy Says:

    Agama saya Katolik, dan saya setuju depan pendapat anda. sudah gak jamannya lagi mencari perbedaan, karena memang beda, akan tetapi tujuannya adalah sama. Keyakinan kita adalah untuk kita sendiri. Udah gak jamannya lagi Agama yang berbeda saling menghujat. Yang kuinginkan hanya kedamaian.
    Peace


  4. @ John: enggak yakin apakah tulisan saya itu bisa disebut sebagai analisa yang hebat, tapi terima kasih.. oh..iyya, kebeneran, saya perempuan. hehe, jadi sebutan bung kurang tepat. ;P

    @ardho: as usual..anda melebih-lebihkan..tapi makasih udah baca.. =)

    @Jippy: Hai, senang sekali mendengar sebuah tanggapan yang positif dari sisi seorang non-muslim. ini memang saatnya untuk meniadakan perbedaan dan fokus terhadap satu tujuan dimana kita bisa toleransi hidup berdampingan. =)


  5. karena apa? kebenarannya jua tetap satu..
    karna kita yakin akan tuhan kita?
    makanya kita harus menyayangi nya jua…
    shalat padanya..bersujud padanya.. istighfar..
    dan cuba mendekat kan diri pada-Nya.. itu yang benar…
    allhamdullilah.. keyakinan telah menyalut seluruh jiwa mu…
    namun pasti gak akan ada lagi keraguan dalam apa puan aspek kerana gak perlu anda menganalisa islam dalam diri karena islam itu pun udah menyeluruh… JIka ia(al-Quran) itu menyatakan tentang PERANG mungkin ini dianggap islam itu terrorist?? tetapi kita harus lihat dalam aspek apa ? dan cara bagaimana? keperluan apa? untuk kita berperang?? sesungguhnya islm itu telah menggariskan perang itu seandai ny lawan memohon kedamaian pasti diberi keutamaan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: