(and I) Hate How Much I Love You

Juli 20, 2008

Kaki saya terasa pegal, jari-jari kaki sebelah kanan hampir pula terserang kram karena terlalu banyak digerakkan setelah beberapa hari bed rest lalu langsung dihajar jalan kaki mengelilingi plaza senayan dan senayan city. Tangan kanan menyandang tas mango berwarna hitam yang dulu saya beli di Hamburg, tangan kiri menyandang 2 buah tas plastik dari dua toko yang berbeda. Menyenangkan sekali rasanya, hanya dengan dua cocktail dress yang simple saya mengalami orgasme dalam berbelanja.

Sepulangnya dari Senayan City, saya yang tadinya hanya ditemani Jerry dari pagi hari, kini ditemani pula oleh Tommy yang baru saja selesai brief meeting dengan partner usaha-nya. Honda city milik Jerry (dengan NoPol dirahasiakan) meluncur di sekitaran Senayan – memberikan saya sebuah pemandangan yang (kini saya sadari) membuat saya jatuh hati pada kota Jakarta yang keras ini. Lampu-lampu dari gedung-gedung kiri dan kanan, angin yang dengan jailnya memainkan rambut saya melalui jendela mobil yang terbuka.

Saya tidak pernah menyukai kota Jakarta.

Hebat, ternyata hanya membutuhkan lampu-lampu jalanan yang menghiasi kawasan Senayan dan Kuningan malam ini untuk membuat saya sedikit tersohok. Terkaget-kaget sendiri, sedikit melakukan penolakan dalam hati dengan segala tetek bengek alasannya, tapi ternyata tidak dapat dipungkiri saya sedikit jatuh cinta.

Tidak pada anda. Tidak pada siapa. Hanya pada Jakarta di waktu malam.

Saya mulai menikmati keras dan angkuhnya kota Jakarta, walaupun masih sedikit meronta kesepian dan merengek atas ketidakramahan ibukota – saya mulai jatuh cinta.

Perjalanan menuju Rumah kos saya di kawasan Setiabudi, mengalun bagaikan sebuah irama jazz yang saya rindukan. Angan saya berlarian begitu saja, membentuk melodi yang sangat saya sayangkan tidak akan pernah bisa saya terjemahkan ke dunia saya. Tubuh ini bergerak mengikuti alunan lagu yang hanya terbayang dalam angan – saya merasa sedang bernyanyi bersama alam. Alam yang di Jakarta diterjemahkan sebagai bangunan-bangunan tinggi dan pohon artificial, deru mobil menggantikan suara angin, debu jalanan yang hampa dan kehilangan aroma tanah. Gemercik air sungai yang tenggelam di selokan-selokan kotor berbau, danau-danau yang berubah menjadi pembuangan sampah massal.

Sesungguhnya saya mengakui, saya sedang jatuh cinta.

Dan saya membencinya. Saya membenci kota ini dan perasaan yang ia berikan, saya membenci kota ini atas semua perlakuan kejam-nya. Saya membenci kota ini dengan keangkuhannya yang berlebih. Saya membenci perasaan tenang yang melimpahi hati. Tenang yang muncul hanya karena terangnya lampu-lampu itu, tenang yang muncul ketika angin memainkan rambut saya. Saya membenci perasaan ini sekaligus mensyukuri dan menikmatinya.

Ah, Jakarta. Andai saja kamu tau, betapa sesungguhnya saya menantikan saat-saat kita kan berpisah. Akankah ada rindu atas kehadiranmu? Akankah ada resah dan bimbang ketika waktu itu tiba? Akankah saya memiliki keinginan untuk kembali mengadu nasib saya di sini seperti orang-orang lain? Mengisi angan dengan harapan yang naïf – harapan untuk bertahan hidup dan menjadi bahagia, di Jakarta. Mari biarkan waktu saja yang menjawab..

(Jakarta, July 1st 2008 )

(di-post dari sebuah draft dalam flashdisk mungil saya, setelah berminggu-minggu tersimpan di sana. Postingan ini juga ada di dalam Multiply saya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: